Beauty of Nature and Culture in Baduy
Hi!
Berhubung saya sedang punya waktu luang, saya ingin kembali blogging dan menuliskan pengalaman saya saat mengunjungi salah satu suku di Indonesia, yaitu Suku Baduy yang terletak di wilayah Lebak, Banten. Awal keinginan saya untuk trip ke Baduy ini karena melihat foto-fotonya di Instagram yang bagus banget! Akhirnya kepoin akun-akun open trip dan ternyata ga mahal, menurut saya cukup terjangkau dengan harga Rp180.000 untuk 2D1N. Tanpa berpikir panjang, saat itu saya langsung mengajak salah satu teman untuk ikut bergabung, kebetulan teman saya ini sering traveling, jadi ga ragu deh pergi sama dia.
Desember 2018
Saya memulai perjalanan tanggal 29 Desember 2018. Meeting point saat itu di Stasiun Rangkasbitung. Saya berangkat sekitar pukul 06.00 dari Stasiun Bekasi dan baru sampai di Rangkasbitung jam 09.00. Rombongan baru terkumpul full sekitar pukul 10.00. Dari Stasiun Rangkasbitung kami bergegas menuju Lebak dengan menyewa angkot (tidak dipungut biaya tambahan, sudah termasuk travel package). Rombongan kami berjumlah sekitar 11 orang peserta trip dan 2 orang guide.
Kami sampai di Lebak tepat saat adzan dzuhur dan menumpang di salah satu rumah warga untuk melaksanakan sholat. Setelah sholat, kami melakukan persiapan untuk memulai petualangan yaitu membeli tongkat dan jas hujan yang penting untuk dibawa saat perjalanan karena saat itu kondisi cuaca sedang musim hujan.
Sebagai informasi, Suku Baduy ini terdiri dari 2 bagian, yaitu Baduy Luar dan Baduy Dalam. Awal memulai perjalanan kami disuguhi pemandangan Suku Baduy Luar yang terdiri dari rumah-rumah bambu, kebanyakan dari penduduk Baduy Luar berjualan aksesoris dan hasil bumi khas Suku Baduy seperti kain tenun, baju adat, tas, madu, dll. Di awal perjalanan, kami juga menjumpai wisatawan lain yang mengantre untuk berfoto di jembatan dan air terjun. Namun, setelah lama berjalan wisatawan yang melanjutkan perjalanan ke Baduy Dalam semakin sedikit, bahkan saat itu hanya ada rombongan kami saja.
Sejujurnya saya sangat tidak menyangka kalau perjalanan ke Baduy ini akan melebihi perjalanan saat mendaki gunung (meskipun belum pernah mendaki gunung hehe). Saya pikir track yang kami lewati akan biasa-biasa saja, ternyata luar biasa! Salah satu guide kami menuturkan bahwa track kali ini akan setara dengan mendaki gunung 3000 mdpl. Wow! Ternyata memang benar, track perjalanan ini sungguh berat, membuat saya ingin menangis dan kembali ke rumah saja haha. Oh iya, selama perjalanan ini kami langsung didampingi oleh beberapa warga asli Baduy Dalam, mereka membuka jasa untuk membantu membawakan tas/barang bawaan selama perjalanan. Saya lupa tarifnya berapa karena saat itu saya tidak menggunakan jasa mereka.
Di perjalananan menuju Baduy Dalam ini saya menemukan banyak warga sekitar khususnya wanita yang sedang menenun kain. Saya pun penasaran dan menghampiri salah satu dari mereka untuk melihat dari dekat proses menenun kain. Seru banget! Andai saat itu saya punya uang lebih, saya pasti akan beli kain tenunnya.
Saat perjalanan menuju Baduy Dalam semakin dekat, kami diberitahukan untuk menonaktifkan gadget selama trip berlangsung. Jujur saya sedih tidak bisa mengabadikan dokumentasi pemandangan alam Baduy Dalam karena luar biasa MasyaAllah sangat indah untuk dipandang mata. Tidak ada asap, tidak ada bunyi klakson, tidak ada suara penjual makanan, suasananya sungguh fresh dan menyatu dengan alam. Pertama kali saya bisa melihat awan dan langit yang begitu biru dari ketinggian. Selain alamnya yang sedap untuk dipandang, saat itu sedang musim durian, kami sempat singgah untuk makan durian yang diambil langsung dari pohonnya. Alhamdulillah ada pasangan suami istri yang juga rombongan kami dengan baiknya mentraktir kami makan durian. Rasa duriannya? Mantap banget! Sebelumnya saya belum pernah makan durian yang tebal dan lezat seperti itu.
Hari semakin sore dan gelap, akhirnya kami sampai di Baduy Dalam sekitar pukul 17.30. Kami akan bermalam di salah satu rumah warga, yaitu di rumah Ayah Aldi. Di Suku Baduy ini, seorang kepala keluarga memiliki nama panggilan sesuai dengan nama anak pertama mereka. Kami tinggal di rumah adat Baduy yang terbuat dari bambu.
Malam hari kami berkumpul di rumah Ayah Aldi untuk sharing session. Kami mengumpulkan snack yang sudah kami persiapkan, sebagian besar snack diberikan kepada Keluarga Ayah Aldi, dan hanya beberapa snack yang kami makan sambil mendengarkan sesi sharing session ini. Ayah Aldi bercerita mengenai Suku Baduy dan kami juga dipersilahkan untuk bertanya terkait Suku Baduy. Sharing session ini memberikan kami informasi lebih mengenai Suku Baduy. Selesai sesi sharing session ini, kami melakukan persiapan untuk tidur. Kami menggelar alas tidur yang kami bawa seadanya yaitu sarung.
Saat di rumah biasanya saya bangun siang, namun karena saya ingin mandi di sungai dan tidak memungkinkan untuk mandi saat matahari telah terbit, saya bangun pukul 04.00 lalu mengajak teman-teman lain untuk bangun dan bergegas pergi ke sungai. Tidak ada penerangan lampu sama sekali, kami berjalan menuju sungai hanya mengandalkan ingatan. Sampai di sungai saya ragu ingin melanjutkan mandi atau tidak, namun akhirnya saya putuskan untuk tetap mandi saja.
Penduduk Suku Baduy ini kebanyakan baru memulai aktifitas pukul 05.00, biasanya mereka memulai aktifitas di sungai, yaitu mandi, mengisi air minum di galon yang terbuat dari bambu, mencuci pakaian, dan juga BAB. Ada sebagian yang bekerja ke sawah atau kebun yang mereka miliki, menenun, berjualan madu dan pakaian, dll.
Malam hari kami berkumpul di rumah Ayah Aldi untuk sharing session. Kami mengumpulkan snack yang sudah kami persiapkan, sebagian besar snack diberikan kepada Keluarga Ayah Aldi, dan hanya beberapa snack yang kami makan sambil mendengarkan sesi sharing session ini. Ayah Aldi bercerita mengenai Suku Baduy dan kami juga dipersilahkan untuk bertanya terkait Suku Baduy. Sharing session ini memberikan kami informasi lebih mengenai Suku Baduy. Selesai sesi sharing session ini, kami melakukan persiapan untuk tidur. Kami menggelar alas tidur yang kami bawa seadanya yaitu sarung.
Saat di rumah biasanya saya bangun siang, namun karena saya ingin mandi di sungai dan tidak memungkinkan untuk mandi saat matahari telah terbit, saya bangun pukul 04.00 lalu mengajak teman-teman lain untuk bangun dan bergegas pergi ke sungai. Tidak ada penerangan lampu sama sekali, kami berjalan menuju sungai hanya mengandalkan ingatan. Sampai di sungai saya ragu ingin melanjutkan mandi atau tidak, namun akhirnya saya putuskan untuk tetap mandi saja.
Penduduk Suku Baduy ini kebanyakan baru memulai aktifitas pukul 05.00, biasanya mereka memulai aktifitas di sungai, yaitu mandi, mengisi air minum di galon yang terbuat dari bambu, mencuci pakaian, dan juga BAB. Ada sebagian yang bekerja ke sawah atau kebun yang mereka miliki, menenun, berjualan madu dan pakaian, dll.
Selama di Baduy Dalam ini kami tidak boleh menggunakan bahan kimia (shampoo, sabun, pasta gigi, skincare, dan pastinya makeup haha). Satu hal yang membuat saya tertawa, tas saya 60% berisi skincare dan makeup haha. Di Baduy Dalam ini saya merasakan mandi di sungai tanpa alat mandi, BAB di sungai tanpa tirai penutup, dan minum air langsung dari sungai. Selama menginap, kami disuguhi makanan yang dimasak dengan kayu bakar oleh Keluarga Ayah Aldi. Keren! Hanya kata itu yang mampu mewakili rasa kagum saya terhadap Suku Baduy.
Suku Baduy Dalam juga tidak diperbolehkan menggunakan alat transportasi, mereka selalu berjalan untuk menuju ke suatu tempat, baik itu di dalam atau di luar Wilayah Banten. Pakaian sehari-hari mereka yaitu baju adat berwarna putih dan tanpa memakai alas kaki. Bahan makanan pun mereka beli dengan berjalan kaki ke Lebak atau Rangkasbitung. Saya sangat kagum terhadap mereka, tetap menjunjung tinggi adat dan budaya di era kehidupan sekarang ini.
Suku Baduy Dalam juga tidak diperbolehkan menggunakan alat transportasi, mereka selalu berjalan untuk menuju ke suatu tempat, baik itu di dalam atau di luar Wilayah Banten. Pakaian sehari-hari mereka yaitu baju adat berwarna putih dan tanpa memakai alas kaki. Bahan makanan pun mereka beli dengan berjalan kaki ke Lebak atau Rangkasbitung. Saya sangat kagum terhadap mereka, tetap menjunjung tinggi adat dan budaya di era kehidupan sekarang ini.
Setelah semalam menginap, tanggal 30 Desember 2018 pukul 10.00 kami bersiap untuk pulang. Kami berpamitan dengan Keluarga Ayah Aldi dan para petinggi di Baduy Dalam. Pada perjalanan pulang ini kami melewati track yang berbeda dengan perjalanan saat berangkat. Track pulang ini kami menuruni jalanan setapak yang kanan-kirinya jurang. Serem banget! Track pun licin karena sehabis hujan, saya pun merasakan terpeleset 2 kali yang membuat celana dan sepatu saya penuh tanah. Rintangan yang kami lalui untuk turun tidak menyurutkan semangat kami karena pemandangan sekitar membuat kami puas dengan perjalanan ini.
Kami sampai di Desa Lebak pukul 15.00 lalu singgah di rumah warga sekitar untuk mandi dan sholat. Saat itu saya merasa sangat fresh karena akhirnya bisa mandi dengan peralatan mandi yang sudah saya bawa. Badan sudah sangat pegal dan sepatu basah kuyup mengharuskan saya membeli sendal jepit. Perjalanan belum selesai, kami masih harus kembali ke Rangkasbitung untuk pulang ke rumah masing-masing. What a nice trip!
Open trip ke Baduy ini sangat menyenangkan untuk saya karena bisa melihat secara langsung bagaimana adat dan budaya masih dijunjung tinggi. Tak peduli seberapa canggih di luar sana, budaya adalah milik leluhur yang harus dijaga. Kalau kita berpergian naik alat transportasi, mereka cukup berjalan kaki, jabodetabek pun tak sulit untuk dijejaki.
See you on another post!
Kami sampai di Desa Lebak pukul 15.00 lalu singgah di rumah warga sekitar untuk mandi dan sholat. Saat itu saya merasa sangat fresh karena akhirnya bisa mandi dengan peralatan mandi yang sudah saya bawa. Badan sudah sangat pegal dan sepatu basah kuyup mengharuskan saya membeli sendal jepit. Perjalanan belum selesai, kami masih harus kembali ke Rangkasbitung untuk pulang ke rumah masing-masing. What a nice trip!
Open trip ke Baduy ini sangat menyenangkan untuk saya karena bisa melihat secara langsung bagaimana adat dan budaya masih dijunjung tinggi. Tak peduli seberapa canggih di luar sana, budaya adalah milik leluhur yang harus dijaga. Kalau kita berpergian naik alat transportasi, mereka cukup berjalan kaki, jabodetabek pun tak sulit untuk dijejaki.
See you on another post!














Comments
Post a Comment